Subscribe RSS Join our Facebook Group Follow us on Twitter!
in Search

nus@Labs

Sekolah MTs Kini Menjadi Sekolah “Madrasah Terpalingkan Sekali” Dari Pendidikan Indonesia

 

Sharing sedikit mengenai percakapan saya bersama guru-guru di Sekolah MTs Tarbiyatussibyan Kp.Cibadak Kec.Bojongmangu, Bekasi – Jawa Barat.

PENDIDIKAN..!!!

Apa yang terpikirkan dibenak Anda ketika mendengar kata PENDIDIKAN..??

Tentu yang Anda pikirkan salah satunya adalah belajar dan mengajar yang dilakukan disekolah maupun di luar sekolah. Mengenai pendidikan, 90% anak-anak Indonesia lebih banyak menghabiskan waktu disekolah dalam mendapatkan Pendidikan formal dan sisanya waktu lainnya dihabiskan untuk belajar sendiri dirumah atau mengikuti kursus-kursus tertentu.

Sekolah-sekolah dan tempat-tempat menuntut ilmu lainnya yang seharusnya  memiliki susana yang nyaman sehingga proses belajar-mengajar menjadi lebih efektif dan  nyaman sehingga siswa/i pun bisa belajar dengan tenang.

Hal tersebut terjadi sebaliknya pada salah satu sekolah MTs (MadrasahTsanawiyah) bernama MTs Tarbiyatussibyan Kp.Cibadak Kec.Bojongmangu, Bekasi – Jawa Barat ini. Keadaan yang cukup memprihatinkan terlihat pada bangunan sekolah tersebut dan berbeda sekali dengan Sekolah Dasar Negeri yang masih berada pada Desa yang sama. Jelas ini menampar wajah kita hari ini..!!! Dimana keadilan di Negri ini..??

Bangunan sekolah hanya tersedia 3 ruangan saja, padahal siswa/i yang sekolah di sana sudah mencapai kelas 6 SD. Sehingga mau tidak mau para guru harus berbagi tempat untuk mengajar 2 Kelas dalam 1 ruangan. Tidak cukup itu saja, Kondisi ruangan pun terhitung sudah mulai rusak dan jauh dari kesan sebuah sekolah. Hal ini terjadi dikarenakan bangunan yang sudah cukup lama kemudian diakibatkan kondisi tanah yang jelek sehingga membuat bangunan menjadi tidak kokoh lagi.

Pertanyaan mulai terlontakna ketika saya diberi kesempatan untuk sharing dengan guru-guru disana.

Pak, apa tidak ada bantuan dana dari Pemerintah untuk renovasi / buat ruangan baru…??

“Sebenarnya kita sudah lama megajukan permohonan renovasi untuk bangunan sekolah dan pembuatan ruangan baru untuk tahun ajaran baru ini, tapi apadaya tidak ada tanggapan dek..”, Tutur salah seorang Guru.

“Mau gimana lagi dek, Sekolah MTs ini bukan bawahan Diknas langsung tapi kita lebih dibawah naungan Departemen Agama. Jadi kalau kita minta ke Diknas kabupaten pasti gak pernah ada jawaban. Kita buat renovasi ruangan dulu aja kita dapat pemberian bantuan dari Provinsi langsung.”, sambung guru lainnya.

“Beda sama SEKOLAH NEGRI dek, mereka lebih cepat dapat dana kalo mengajukan apa-apa. Contoh saja SD Negri disebrang sana yang bangunanya lebih bagus dan lebih punya banyak ruang kelas.”

Sebenarnya masalah apa sih yang terjadi sampai dana untuk pendidikan sampai sesulit itu. Padahal pendidikan yang baik akan melahirkan generasi muda yang baik *** dan merekalah yang menjadi penerus bangsa ini selanjutnya.

 

Untuk siswa/I sendiri apa setiap tahun selalu bertambah pak..??

Ya alhamdullilah dek orang tua murid yang tinggalnya dekat sekolah masih mempercayakan sekolah ini sebagai tempat menuntut ilmu, jadi ya setiap tahun ada siswa/i baru. Terlebih lagi sekolah kita ini dapat bantuan BOS (Badan Operasional Sekolah) dari pemerintah jadi bayar sekolah bisa Gratis. Mungkin jadi lebih meringankan beban orang tua murid. Tapi kalau dilihat yang sekolah disini cuma anak-anak sekitar sini aja kebanyakan orang tua milih menyekolahkan anaknya di SD Negri di sebrang sana”.

Apa sudah ada usaha pribadi dari sekolah untuk Merenovasi / Membangun ruangan baru..??

“Kalau melihat kondisi lingkungan desa ini dan melihat kondisi orang tua murid disini, kami merasa gak tega mas untuk minta pungutan/sumbangan. Terkadang kata SEKOLAH GRATIS itu menjadi masalah buat sekolah ini sendiri. Namanya juga orang desa mas kalo dikasih tau GRATIS pasti mereka mikirnya gak baya apa-apa sampai lulus nanti.”

Saya lihat disini belum masuk pelajaran KOMPUTER yah pak, beda sama sekolah dasar lainnya.,??

“Kita berat pak kalo misal mau terjun kesana, kita juga sudah punya rencana untuk kesana. Tapi lagi-lagi mentok masalah dana dan infrastruktur sekolah. Kalau memang ada dana kami lebih milih renovasi sekolah. Lagipula kami guru disini juga belum mengerti cara menggunakan komputer. Makannya kami beruntung sekali bisa mengenal mahasiswa BSI Cikarang ini yang sudah mau membantu mengenalkan teknologi ke siswa kami walau hanya sebentar.”

Memangnya guru-guru disini tidak mendapatkan pelatihan dari Diknas..??

“kalo pelatihan sih kami sering diinformasikan dan diundang untuk hadir. Tapi persyaratannya itu mas yang buat kami gak sanggup dan bahkan minder duluan. Setiap acara kami diwajibkan membawa Leptop dan Modem sendiri sedangkan kami gak mampu beli, bentuknya, cara pakainya aja kami gak tau.”

Sedih saya mendengar ini, dan saya coba yakinkan kepada guru-guru kalau laptop itu gak penting dan gak wajib kita punya kita bisa pakai warnet jika memang mau belajar. Setiap pelatihan coba ikut belajar disana walau hanya melihat teman sebelahnya. Saya ceritakan kalau saya pribadi pernah seminar-seminar di gedung, hotel dan tepat elit lainnya dengan dandanan ala mahasiswa yang acak-acakan seperti ini tapi kita gak malu untuk belajar dengan orang-orang berdasi. Terus terang saya merasa tidak sopan berkata seperti ini tapi saya niatkan untuk berbagi pengalaman dengan guru-guru disana.

Berikut gambar yang berhasil saya ambil sebagai bukti dari lokasi yang diceritakan.

Untuk yang berniat membantu perbaikan sekolah ini Anda bisa menyalurkannya dengan menitipkannya pada saya wakhidnusa dengan konfirmasi ke :

Telpon : 085715848768
Email : wakhidnusa@mugi.or.id 

BCA 5220846549 a.n Wakit Nusabakti.

1,025 Views, 2 Comment(s), Published on: 07-16-2012 21:15 by wakhidnusa to nus@Labs
| More

Comments

 

wakhidnusa said:

  Kisah menjadi sukarelawan dalam BAKSOS yang diadakan oleh aktivis kampus membawa cerita dan pengalaman

July 18, 2012 10:45 AM
 

wakhidnusa said:

Kisah menjadi sukarelawan dalam BAKSOS yang diadakan oleh aktivis kampus membawa cerita dan pengalaman

July 18, 2012 11:20 AM